Laki laki menjadi laki laki dan disebut laki laki bukan terutama karena kelaki-lakiannya, apalagi karena kehebatan kelaki-lakiannya…[st. rusdi]

Orang yang butuh kehebatan, kenapa ia butuh kehebatan, satu-satunya sebab adalah karena ia tidak hebat. laki laki yang menyangka dirinya laki-laki dengan menunjukkan kehebatannya sebagai laki-laki, tiada kenyataan lain pada dirinya kecuali ia tidak sebenar benarnya laki-laki.

Makin rendah pangkat prajurit, makin panjang tombaknya, makin sakti seseorang makin tidak diperlukannya senjata, orang yg kalau berkelahi hanya melempar batu, granat, maupun rudal, itulah sebenar benarnya bukan laki-laki.

Orang yang suka minum minuman suplemen dalah orang yang produksi kesehatan orisinal dari tubuhnya sendiri tidak maksimal, sehingga dia memerlukan daya bantu dari luar. Laki-Laki yang untuk keyakinannya sebagai laki-laki memerlukan penderitaan perempuan, itulah makhluk yang paling tidak laki-laki.

Maka kebanyakan korban laki-laki adalah laki-laki, sebab pelaku satu satunya penghancuran karakter dan citra laki-laki dalah laki laki itu sendiri. Sehingga kalau sejarah mencatat munculnya gerakan gender, pemberdayaan perempuan, Feminisme-dan apapun namanyanya serta formula sosialnya -,terdakwanya hanya satu yakni laki-laki

Laki-laki pada konteks biologis lebih sering disebut “lelaki”, alat produksi dan kekuasaanya disebut “kelakian” Namun Laki-laki yang diaksudkan disini berdimensi jauh lebih luas dari itu.

Kata Laki-Laki dikembangkan ke tingkat mental, idiomnya berubah menjadi “jantan“. Wataknya “Kejantanan” tapi dalam kebudayaan,idiom itu memuat potensialitas diskriminasi gender. Segala yang hebat disebut jantan, sedangkan segala yang cengeng dan remeh disebut betina. Kadar diskriminasinya terletak pada egosentrisme budaya laki-laki. Semua yang bagus bagus diambilnya dan disebut identik dengan dirinya, sementara yang sebaliknya diidentikkan dengan perempuan.

Padahal sangat banyak perempuan yang jauh lebih “jantan” dibanding laki-laki.

Sesunguhnya, kalau imagi intelektual kita sudah sampai ke kata “kejantanan”, konteks yang bisa kita temukan menjadi tak bisa dibatasi lagi.

Jantan dalam bahasa olahraga disebut “sportif”,“Sportifitas”. Olahraga yang melanggar sportifitas tak hanya menimbulkan konflik atau bahka chaos, tapi sesungguhnya kehilangan hakikatnya sebagai olahraga.

Dalam bahasa moral, Jantan adalah “jujur”. Orang yang dikasihi tetapi tidak berterima kasih bukan laki-laki. Orang yang memikul tanggung-jawab sebagai pejabat yang mengurusi kehidupan orang banyak, tapi hatinya tidak “berat” kepada rakyat, tidak punya kepantasan disebut laki-laki.

Dalam bahasa ilmu, jantan adalah “obyektif” Kalau anjing disebut babi, penyebutnya bukan laki-laki. Kalau 3 milliar disebut 3 Juta, penyebutnya tidak jantan, kalau orang berani tidak malu mengusulkan dirinya menjadi pemimpin padahal kemudian tidak becus melakukan pekerjaanya, ia bukan laki-laki karena tidak memiliki kesanggupan untuk mempersepsikan dirinya sendiri secara obyektif-apalagi memiliki visi dan wacana yang memadai tentang rakyatnya.

Dalam bahasa hukum, jantan adalah “adil”. dalam bahasa Islam, jantan itu “ikhlas”. Dalam estetika, kejantanan adalah “pantas”. Dalam ilmu pasti dan teknologi, jantan adalah “tepat”. Dalam politik jantan adalah “keberanian untuk tidak berkuasa”

Kejantanan sesungguhnya adalah keberanian dan keteguhan dalam menggenggam dan menegakkan kebenaran.

 

 

SUDAH JANTAN-KAH KITA???

 

 

Iklan